Biaya konstruksi mulai dari
OMAH GAWE (TIPE B) merupakan rumah hunian terjangkau dengan luas bangunan 58 m², yang berdiri di atas lahan berukuran 5,00 × 11,00 m (55 m²). Hunian ini terdiri dari satu lantai dengan tambahan mezzanine, memadukan gaya tradisional Betawi dan tropis yang disesuaikan dengan iklim Indonesia. Desainnya mengutamakan efisiensi ruang sekaligus menyediakan area yang dapat mendukung kegiatan usaha maupun kebutuhan keluarga. Pada lantai utama terdapat ruang usaha yang cukup luas dan fleksibel untuk digunakan sebagai tempat berdagang, produksi, maupun aktivitas lainnya. Ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi ditempatkan berdekatan dengan hubungan ruang yang terbuka, sehingga aktivitas sehari-hari lebih praktis dan ruang terasa lebih lega. Area depan dan belakang juga dilengkapi taman sebagai ruang hijau yang memberikan suasana lebih nyaman sekaligus mempercantik hunian. Area kamar tidur ditempatkan pada mezzanine, dengan dua kamar berukuran masing-masing sekitar 3 × 2,5 m. Mezzanine diakses melalui tangga yang berada di area ruang usaha atau produksi, sehingga pemanfaatan lantai utama tetap maksimal. Penataan ini memungkinkan ruang terbatas digunakan secara lebih efisien tanpa mengurangi fungsi utama rumah. Tampilan eksterior terinspirasi dari rumah adat Betawi dengan bentuk atap yang dibuat lebih tinggi dan dilengkapi ornamen lisplang gigi balang untuk memperkuat karakter lokal. Atap dibuat menjorok keluar untuk membantu melindungi bangunan dari tampias hujan, sementara ventilasi pada bagian atap mendukung sirkulasi udara di dalam rumah. Perpaduan material lokal, elemen hijau, dan karakter tropis menghasilkan hunian yang sederhana, fungsional, dan tetap memiliki identitas tradisional.
OMAH GAWE (TIPE B) merupakan rumah hunian terjangkau dengan luas bangunan 58 m², yang berdiri di atas lahan berukuran 5,00 × 11,00 m (55 m²). Hunian ini terdiri dari satu lantai dengan tambahan mezzanine, memadukan gaya tradisional Betawi dan tropis yang disesuaikan dengan iklim Indonesia. Desainnya mengutamakan efisiensi ruang sekaligus menyediakan area yang dapat mendukung kegiatan usaha maupun kebutuhan keluarga. Pada lantai utama terdapat ruang usaha yang cukup luas dan fleksibel untuk digunakan sebagai tempat berdagang, produksi, maupun aktivitas lainnya. Ruang keluarga, dapur, dan kamar mandi ditempatkan berdekatan dengan hubungan ruang yang terbuka, sehingga aktivitas sehari-hari lebih praktis dan ruang terasa lebih lega. Area depan dan belakang juga dilengkapi taman sebagai ruang hijau yang memberikan suasana lebih nyaman sekaligus mempercantik hunian. Area kamar tidur ditempatkan pada mezzanine, dengan dua kamar berukuran masing-masing sekitar 3 × 2,5 m. Mezzanine diakses melalui tangga yang berada di area ruang usaha atau produksi, sehingga pemanfaatan lantai utama tetap maksimal. Penataan ini memungkinkan ruang terbatas digunakan secara lebih efisien tanpa mengurangi fungsi utama rumah. Tampilan eksterior terinspirasi dari rumah adat Betawi dengan bentuk atap yang dibuat lebih tinggi dan dilengkapi ornamen lisplang gigi balang untuk memperkuat karakter lokal. Atap dibuat menjorok keluar untuk membantu melindungi bangunan dari tampias hujan, sementara ventilasi pada bagian atap mendukung sirkulasi udara di dalam rumah. Perpaduan material lokal, elemen hijau, dan karakter tropis menghasilkan hunian yang sederhana, fungsional, dan tetap memiliki identitas tradisional.