Biaya konstruksi mulai dari
OMAH DJEMOER (TIPE B) merupakan rumah tinggal 2 lantai dengan luas bangunan 41,90 m² yang berdiri di atas lahan berukuran 10,00 × 22,00 m (220 m²). Hunian ini memiliki 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi, dengan konsep yang merespons karakter kawasan kampung nelayan serta aktivitas masyarakat yang didominasi oleh nelayan dan penjual ikan. Tatanan ruang dirancang untuk mendukung aktivitas hunian sekaligus kegiatan pengolahan ikan. Lantai 1 terdiri dari carport dan area masuk, ruang tamu, kamar tidur, gudang dan dapur, area cuci dan jemur, serta kamar mandi. Tersedia pula area jemur ikan yang luas, sehingga kegiatan menjemur dapat dilakukan di area rumah tanpa mengganggu sirkulasi jalan di lingkungan sekitar. Lantai atas dilengkapi mezzanine yang menambah ruang sekaligus memberikan fleksibilitas penggunaan sesuai kebutuhan penghuni. Bukaan pada berbagai sisi rumah membantu memasukkan cahaya alami dan udara ke dalam ruangan, sehingga hunian tetap nyaman meskipun berada pada lingkungan dengan aktivitas yang cukup padat. Tampilan eksterior menggabungkan karakter vernakular kampung dengan gaya sederhana dan fungsional. Dinding bata ekspos menjadi elemen dominan yang memberikan kesan natural, sementara material kayu digunakan pada pintu dan beberapa elemen eksterior. Atap menggunakan struktur kayu dengan penutup genteng, serta dilengkapi jendela kisi-kisi berengsel putar yang dapat dimanfaatkan sebagai area menjemur ikan. Desain ini menjadikan rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi penghuninya.
OMAH DJEMOER (TIPE B) merupakan rumah tinggal 2 lantai dengan luas bangunan 41,90 m² yang berdiri di atas lahan berukuran 10,00 × 22,00 m (220 m²). Hunian ini memiliki 3 kamar tidur dan 1 kamar mandi, dengan konsep yang merespons karakter kawasan kampung nelayan serta aktivitas masyarakat yang didominasi oleh nelayan dan penjual ikan. Tatanan ruang dirancang untuk mendukung aktivitas hunian sekaligus kegiatan pengolahan ikan. Lantai 1 terdiri dari carport dan area masuk, ruang tamu, kamar tidur, gudang dan dapur, area cuci dan jemur, serta kamar mandi. Tersedia pula area jemur ikan yang luas, sehingga kegiatan menjemur dapat dilakukan di area rumah tanpa mengganggu sirkulasi jalan di lingkungan sekitar. Lantai atas dilengkapi mezzanine yang menambah ruang sekaligus memberikan fleksibilitas penggunaan sesuai kebutuhan penghuni. Bukaan pada berbagai sisi rumah membantu memasukkan cahaya alami dan udara ke dalam ruangan, sehingga hunian tetap nyaman meskipun berada pada lingkungan dengan aktivitas yang cukup padat. Tampilan eksterior menggabungkan karakter vernakular kampung dengan gaya sederhana dan fungsional. Dinding bata ekspos menjadi elemen dominan yang memberikan kesan natural, sementara material kayu digunakan pada pintu dan beberapa elemen eksterior. Atap menggunakan struktur kayu dengan penutup genteng, serta dilengkapi jendela kisi-kisi berengsel putar yang dapat dimanfaatkan sebagai area menjemur ikan. Desain ini menjadikan rumah tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi penghuninya.